SIBUK YANG MENYUSAHKAN

Siapa yang setuju bahwa sibuk yang paling menyusahkan adalah sibuknya pikiran?

Isi kepala seperti melompat-lompat, berubah silih berganti.  Kadang malah bercampur aduk, sulit dikenali apa saja di dalamnya. Seperti bubur ayam Mamang, makin keaduk makin sulit ditebak yang mana kerupuk, ayam, dan teman-temannya.

Tak jarang terasa seperti gulungan benang yang berantakan. Entah dimana ujung urainya, kusut masai di pangkalnya.

Terlalu banyak masalah, alasan paling sering terlontar. Tidak sedikit yang menyalahkan nasib, atau Tuhan, kenapa begitu sial, masalah tak kunjung habis.



Ah, pikiran tidak bisa dikendalikan! Sudah kucoba tapi semua datang kembali, seperti hembusan angin yang tak bisa ditebak hadirnya.

Namun bukankah manusia menjadi makhluk paling mulia karena akalnya?

Mungkin kita hanya belum belajar, bagaimana caranya menahan dan melepaskan.

Menahan diri untuk mengatasi semua masalah bersamaan. Menyadari bahwa cangkir kosong pun akan tumpah jika diisi terus-menerus. Cangkir tak akan berubah menjadi teko hanya karena diisi air seukuran teko.

Setelahnya, belajar melepaskan. Belajar menyimpan semuanya dalam kompartemen-kompartemen pikiran. Memilah dan memisah pikiran-pikiran, mana yang mendesak, mana yang bisa ditunda, mana yang bisa dihempaskan saja.

Mengurai dan melepaskan simpul kusutnya pikiran adalah cara untuk memberi ruang. Dimulai dari merelakan sebagian dan fokus pada sisanya.

Tak semua harus dipikirkan saat ini. Tak semua harus diselesaikan saat ini. Jangan lupa, berbaik hatilah pada diri sendiri 😊

Komentar