Penghakiman, siapakah di antara kita yang yakin bahwa tak pernah sekalipun penghakiman mengalir dari mulut kita? Atau mungkin yakin tak pernah meluncur dari jari-jemari kita yang menemukan kebebasan berekspresi di sosial media?
Penghakiman sejatinya tidak selalu bermakna negatif karena kita membutuhkannya dalam pengambilan keputusan, untuk menilai mana yang terasa tepat dilakukan dan mana yang tidak. Namun seringkali, penghakiman kita gunakan untuk menilai orang lain maupun situasi yang kita hadapi sehari-hari, dalam cara yang tidak tepat. Bergosip misalnya, di mana sekelompok orang secara bersama-sama menghakimi situasi atau orang lain, yang tidak jarang berisi hal-hal menyakitkan bagi objek gosip.
Pernahkah terbesit di benak,
"Kenapa yaa mudah bagiku menghakimi orang lain?"
"Duh, kenapa sulit berhenti di sini, tak lagi menghakimi?"
Sepanjang waktu, setiap hari, jangan-jangan kita terjebak dalam lingkaran penghakiman. Menghakimi orang lain, menghakimi situasi, bahkan bisa jadi menghakimi diri sendiri, kemudian malah menjadi adiksi. Jika tak menghakimi? Jawabnya: bagai sayur tanpa garam, terasa hambar. Atau bagai sinetron Ikatan Cinta tanpa tokoh Aldebaran, kurang mendebarkan.
Menghakimi sejatinya tak butuh usaha. Saking mudahnya, pikiran dan kata-kata mengalir begitu saja hingga kadang kita tak menyadari bahwa kita tengah menghakimi. Bahkan mungkin terasa wajar karena toh bukan hanya kita yang melakukannya. Walaupun pepatah bilang "Don't judge a book by it's cover", pada kenyataannya sulit menghindar dari penghakiman.
Lalu dari manakah penghakiman ini datang?
Gabrielle Bernstein dalam buku berjudul Judgement Detox: Release the Beliefs That Hold You Back from Living A Better Life menyebutkan bahwa penghakiman adalah sebuah usaha yang dilakukan seseorang untuk membuatnya merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Penghakiman lahir sebagai bentuk pertahanan diri seseorang dari perasaan terancam, terluka, dan ketakutan yang disimpannya. Seseorang memilih untuk menghakimi orang lain karena hal tersebut mengalihkannya dari rasa sakitnya sendiri.
Ia
berlindung dari rasa takut melalui penghakiman, dengan menyerang dan
menyakiti orang lain. Secara tidak sadar memilih untuk menghakimi orang
lain daripada merasakan sakit dari luka-lukanya sendiri. Pertanyaan kemudian, sampai kapan kita akan menghindari dari luka dan rasa sakit kita sendiri dan menimpakannya pada orang lain?
Alih-alih menghabiskan energi untuk menyakiti orang lain yang tanpa disadari sebenarnya merupakan perbuatan menyakiti diri secara terus-menerus, alangkah lebih baik jika kita bekerja dengan diri sendiri. Menemukan luka yang ada dalam diri, tak lagi menaburkan garam di atasnya namun memilih dengan sadar untuk mengobatinya dengan cinta.
Komentar
Posting Komentar