Adaptasi dalam Dinamika Pandemi Covid-19

 "Positif Covid-19 Harian Kembali Pecah Rekor 14.518 Kasus" (Berita CNN), sebaris headline berita yang saya baca dalam perjalanan menuju kantor pagi itu.

"Sista, positif mendekati 15 ribu. Ya Allah mugo2 kabeh keluarga diparingi sehat selamet.", tulis saya di sebuah Whatsapp Group keluarga.

Sebuah respon datang kemudian, ditujukan kepada saya. "Mami hati2 banget ya. Aku mencemaskanmu sangat.". Sebaris kalimat hangat yang ternyata melekat erat di pikiran saya seharian itu.

Hmm, ketika orang lain menunjukkan bahwa ia sangat cemas, saya justru tidak pernah benar-benar menyadari seberapa besar kecemasan yang saya miliki. Atau benarkah saya merasa cemas? Setelah mengingat-ingat, pada beberapa situasi saya merasa khawatir dan tidak nyaman, namun pada situasi yang lain saya ternyata mampu menjalaninya dengan perasaan biasa saja.

Saya adalah pegawai yang harus berkantor 5 hari dalam seminggu, dengan durasi tempuh perjalanan hampir mencapai 2 jam dari Bogor menuju Bekasi, dan menggunakan berbagai moda transportasi sekali jalan (KRL, Transjakarta, dan kendaraan roda 2). Jika setiap hari saya harus mengisi formulir self-assessment Covid-19, pastinya saya termasuk berisiko tinggi terpapar Covid-19.

Sepertinya alasan yang masuk akal untuk mencemaskan diri sendiri, ya? Apalagi di rumah saya memiliki seorang balita, seorang batita, dan pengasuh anak saya yang punya riwayat penyakit asma (termasuk saya juga, penderita asma). Saya juga masih sering berinteraksi dengan kedua orangtua saya yang sudah lansia. Bukan hanya berpotensi terpapar Covid-19, saya juga dapat membawa virus itu dekat dengan keluarga tercinta 😔.

Lalu kini saya jadi bertanya-tanya tentang kehadiran rasa cemas itu. Apakah saya sudah begitu adaptif dengan situasi sehingga tak lagi menyadarinya?

Saya jadi teringat tesis yang disusun beberapa tahun lalu berjudul "Validasi Klinik Recent Life Changes Questionnaire sebagai Instrumen Deteksi Dini Gangguan Penyesuaian". Penelitian ini di antaranya mengulas tentang stres dan kemampuan adaptasi individu dalam menghadapinya.
 
Stres merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh setiap individu. Konsep stres pada dasarnya adalah tentang bagaimana individu beradaptasi terhadap lingkungannya. 



Individu dengan kemampuan coping yang baik akan mampu beradaptasi dengan tekanan yang dihadapi sementara bagi mereka yang tidak dapat menangani tekanan maka kemungkinan mengalami kegagalan adaptasi semakin besar. Dikaitkan dengan situasi pandemi, dapat dikatakan bahwa mereka yang memiliki kemampuan coping yang baik-lah yang akan mampu beradaptasi dan bertahan menghadapi dinamika pandemi.



 
Adapun sumber utama stres yang terkait dengan pandemi adalah terjadinya perubahan hidup (life change). Pandemi membawa yang nyata dalam kondisi kehidupan individu dan membutuhkan penyesuaian. Perubahan ini berpotensi mengancam karena hal tersebut memicu kebutuhan untuk penyesuaian dalam identitas atau rutinitas kehidupan individu. Kita harus menyesuaikan diri dengan protokol kesehatan yang ketat dimanapun dan kapanpun. Biasanya bernapas itu terasa mudah bahkan effortless, kini harus disesaki dengan masker yang menempel sepanjang hari. Sekedar beli makanan di pinggir jalan untuk mengganjal perut yang lapar dalam perjalanan pulang ke rumah pun kini dipikir berulang kali. Rutinitas berkumpul dengan keluarga maupun teman sangat dibatasi bahkan sebagian harus dihindari. Refreshing di akhir pekan yang biasanya menjadi momen nyenengin anak dengan mengajak mereka ke taman atau mall pun kini harus dihapus dari daftar kegiatan.

Membaca ulang kembali tulisan di atas, juga merenungkan kembali pesan singkatdari keluarga saya, tampaknya kini saya sudah dalam tahap mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang hadir dalam situasi pandemi. Walau dinamika cemasnya masih naik dan turun, tapi sejauh ini tidak menimbulkan kesulitan dalam aktivitas sehari-hari.

Yah, mau bagaimana lagi. Kita sama-sama menyadari bahwa sangat terbatas pilihan yang ada, dan saya memilih untuk beradaptasi agar dapat bertahan hingga pandemi ini usai. Sampai di sini rasanya saya harus lebih banyak bersyukur. Mampu bertahan melewati pandemi dalam kondisi fisik dan psikologi yang baik adalah anugerah. 






Komentar

Postingan Populer