BELAJAR MERASA CUKUP
Semalam saya memarahi si anak sulung. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB dan dia merajuk minta diizinkan memainkan tablet. Katanya, baru sebentar dia mainkan sebelum sepupunya datang dan dia simpan si tablet. " Tidak", kata kami. Dia menangis terluka, marah karena Ayah Ibunya tidak menghiraukan rajukannya. Saya tanya, "Kakak tadi sudah main tab, lalu Hudi datang dan Kakak main apa kemudian?" "Mina dan Hudi main game di komputer, Mi." "Seru mainnya?", tanya saya. Dijawab dengan anggukan. "Setelah itu Kakak main apa lagi?". "Main sepatu roda sama teman-teman di luar." "Senang?" Kakak mengangguk. Tangisnya benar-benar sudah mereda. "Masih belum merasa cukup mainnya sedari tadi?" Kakak terdiam. "Cukup, Mi". Ia pun menghapus sisa tangis di sudut mata dan beranjak menghampiri mainan di dekatnya. Tak lagi merajuk. Saya terdiam. Merenung. Jadi malu rasanya, di usia saya ini kadang saya teng...


